Tilasing Projo Brebek Srengat

Raden Mas Djayeng Kusuma adalah putra Bupati Tulungagung Raden Mas Tumenggung Djojoningrat, juga seorang pejabat wedhono di Kawedanan Srengat Kadipaten Ngrowo saat itu, yang kemudian dipindah ke Kawedanan Brebek Nganjuk.

Karena membunuh Mandor Belanda yang semena-mena kepada pekerja pribumi yang dilihat dengan mata sendiri pada waktu pembangunan jembatan Ngujang Tulungagung, saat perjalanan dari Brebek, Raden Mas Djayeng Kusumo diasingkan ke hutan belantara yang angker, sebagai konsekwensi hukuman seumur hidup oleh Pengadilan Belanda, namun sebagai Bangsawan nan pemberani, ikutlah sekitar 40 orang dalam rangka belajar dan membantu RM Djayeng Kusumo,  yang saat ini hutan itu menjadi wilayah Desa Demuk.

Kata Demuk sendiri, berasal dari kata “Demit Ngamuk” karena pada waktu babat hutan belantara banyak demit atau hantu yang ngamuk (marah). Setelah 10 tahun melakukan babat alas, pada 10 Oktober 1893 diakui sebagai desa yang mempunyai wilayah luas yaitu seluruh wilayah Kecamatan Pucanglaban Tulungagung. RM Djayeng Kusumo memiliki Putra RM Poerbo Kusumo, yang sampai sekarang keturunannya mudah di telusuri.

________________________
Tutur temurun dari leluhur saya, Eyang Wirodarmo putra dari Eyang Wiryosetro, adalah pengikut dan prajurit dari Ndoro Ndemuk, yaitu RM Djayeng Kusumo, sampai saat ini saya tidak menemukan, apakah Eyang Wirodarmo dari Brebek atau asli Sumberingin Kidul Ngunut, karena makam orang tuanya Eyang Wiryosetro di Santren desa Sumberingin Kidul.

Selain memiliki Gilingan Tebu untuk Gula merah, Pusaka-pusaka peninggalan Eyang Wirodarmo menunjukkan setatus keprajuritan,  yaitu tombak trisula galih asem, keris cundrik kecil dan besar, yang semua saya simpan dan telah dikuatkan oleh Mbah Mranggi (Perawat pusaka).
Eyang Wirodarmo memiliki putra Eyang Ngusup ( Mbah Yusuf ) ayah dari ayah saya Bapak Syaeraziy Yusuf, dari Desa Sumberingin Kidul Ngunut Tulungagung.

Selain menekuni suluk tarekat Naqshabandi Kholidy Mbaran, Eyang Ngusup adalah pedagang, yang sering belanja khususnya padi di sekitaran Kunir, Kerjen, Maron Srengat Blitar, untuk selanjutnya di tutu (ditumbuk untuk dikuliti ) dan dijual berbentuk beras. Karena seringnya ayah saya diajak ke daerah Srengat, setelah lulus SR, ayah saya melanjutkan sekolah Madrasah di Pondok Pesantren Al Hikmah Langkapan Srengat Blitar, sampai dinikahkan oleh orang tua asuhnya, Mbah Nyai Nafisatun Umar dengan Ibu saya Muslimah, gadis dusun Langkapan yang Ngaji di Mbah Yai Abdul Fattah Pondok Pesantren Al Hikmah.

Ibu dari Ibu saya, Hj Mariyatun memiliki orang tua Eyang Sarkam Kromo, putra dari Eyang Kromo Karso, warga desa Maron Srengat, yang urban dari daerah Brebek Kabupaten Nganjuk. Diceritakan Mbah Putri saya, Eyang Sarkam diajari dari para leluhurnya di Brebek sebagai berjonggo ( pemegang adat kejawen ) dan beberapa laku puasa, Berbeda dengan Mbah Kakung saya, Mbah Regu, putra dari Eyang Mangundriyo putra dari Eyang Driyoredjo, turun temurun sebagai seorang buruh pembajak sawah sekaligus memiliki beberapa Cikar ( Kereta Sapi ) sebagai jasa pengangkut hasil pertanian. Karena keuletannya, Mbah Regu di percaya orang kaya bernama H Abdul Jalal untuk mengurus sawahnya berikut Musholla sebagai pusat majelis Sewelasan yaitu Manaqib Syeikh Abdul Qodir Jilani, dengan di ganti nama Abdulrohman.

Untuk orang-orang yang sabaquna bil iman lahum Al Fatihah

Eyang Kakung H. Abdurohman Regu
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai